DARURAT SUNGAI KELAY Dicurigai Jebol Akibat Tambang di Tepi 50 Meter Warga Berau Tuding ESDM Biarkan Reklamasi Diabaikan
DARURAT SUNGAI KELAY Dicurigai Jebol Akibat Tambang di Tepi 50 Meter Warga Berau Tuding ESDM Biarkan Reklamasi Diabaikan
BERAU, KALTIM – Sungai Kelay di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berada di ambang bencana ekologis, memicu kepanikan di kalangan masyarakat setempat.
Minggu (26/10/2025)
Dugaan kuat terhadap aktivitas pengerukan oleh perusahaan tambang yang telah melanggar batas aman dan mengabaikan kewajiban reklamasi (backfilling) disebut menjadi pemicu utama ancaman jebolnya tanggul dan tebing sungai.
Masyarakat secara terbuka menuding Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) gagal menjalankan pengawasan, sehingga risiko bencana dan korban jiwa yang mereka sebut "jakan bala" kian nyata.
Peringatan Diabaikan, Aktivitas di Batas Fatal
Kekhawatiran warga memuncak setelah melihat aktivitas galian yang nyaris bersentuhan dengan batas sempadan sungai.
Menurut regulasi, sempadan untuk sungai kecil di luar kawasan perkotaan harus dijaga minimal 50 meter.
"Bentar lagi jebol Sungai Kelay kalau dibiarkan pemerintah.
Sudah di ingatkan backfilling (timbun ulang) reklamasi, masih juga diabaikan manajemen," tutur salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut akan adanya intervensi.
Pelanggaran ini bukan hanya sekadar administrasi, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan publik.
Warga khawatir, jika tebing sungai runtuh saat masyarakat sedang melintas atau bepergian (beketjinting), dampaknya akan fatal.
"Kalau sampai jebol pas masyarakat lewat terdampak, apalagi sampai korban (jakan bala)... Ini memang disengaja, kalo tidak disengaja mana berani hingga di tepi sungai 50 meter.
Katanya 'Siapa handak beseng (siapa berani melawan)?'” ujarnya, menunjukkan adanya arogansi dan impunitas di lapangan.
Kerusakan Lingkungan Berdampak pada Identitas Budaya
Kritik terhadap kelalaian pengawasan Dinas ESDM dan perusahaan juga disandingkan dengan ancaman terhadap keberlanjutan hidup dan budaya lokal.
"Pikirkan kebudayaan dirimu sendiri,,,Jika terjadi kekosongan kebudayaan pada dirimu tidak menarik budaya , kebudayaan mu akan diisi oleh kebudayaan orang lain.
Belum bertarung kamu sudah kalah selangkah," demikian pesan yang menyentil dari masyarakat.
Kerusakan pada Sungai Kelay sebagai sumber kehidupan dipandang sebagai awal dari hilangnya identitas kultural yang terikat erat dengan lingkungan alam Berau.
Tuntutan Konfirmasi dan Tindakan Mendesak
Mengingat tingginya potensi bencana yang mengancam keselamatan dan lingkungan, masyarakat mendesak pihak berwenang segera bertindak.
Pemerhati lingkungan menuntut Dinas ESDM Provinsi Kaltim dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Berau untuk segera melakukan audit teknis dan inspeksi mendadak (Sidak) guna memverifikasi pelanggaran sempadan 50 meter dan menguji komitmen perusahaan terhadap reklamasi.
Konfirmasi
Hingga berita ini disusun, pihak Manajemen Perusahaan Tambang yang beroperasi di sekitar Kelay belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan pengabaian backfilling dan pelanggaran sempadan.
Sementara itu, Dinas ESDM Provinsi Kaltim juga belum menjawab permintaan konfirmasi mengenai sanksi dan langkah pengawasan yang telah mereka lakukan.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau didesak untuk segera mengambil peran dengan memfasilitasi Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan memastikan adanya penegakan hukum yang tegas, termasuk ancaman pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP), sebelum potensi jebolnya Sungai Kelay benar-benar menjadi malapetaka (Red/Hrs/rizky)
Komentar
Posting Komentar